Friday, March 22, 2013

Karakteristik Dinamika Pesisir Pelabuhan Ratu



              Pelabuhan Ratu merupakan daerah pesisir di Selatan Kabupaten Sukabumi dan sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Pelabuhan Ratu terkenal dengan penghasil utama perikanan laut di Kabupaten Sukabumi. Wilayah Kabupaten Sukabumi di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Hindia. 



Kabupaten Sukabumi mempunyai luas sekitar 3.934,47 km2. Topografi daerah perairan dengan kedalaman sekitar 200m, pada jarak sekitar 300 m dari garis pantai, di luar itu kedalaman sekitar 600 m. Sumber : IPB 2010
Eksistensi Sungai
Teluk Pelabuhan ratu merupakan teluk terbesar di pantai Selatan Pulau jawa yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Secara Geografis, Teluk Pelabuhan Ratu terletak pada posisi 6o 57’ sampai 7o 07’ LS dan 106o 22’ sampai 106o 33’ BT dengan panjang garis pantai 105 km. perairan Teluk Pelabuhan Ratu merupakan tempat bermuaranya empat sungai, yakni Sungai Cimandiri, Sungai Cibareno, Sungai Cilentuk dan Sungai Cikanteh. Dan diantara sungai sungai tersebut yang mempunyai kegiatan banyak adalah Sungai Cimandiri. Daerah aliran sungai (DAS) Cimandiri adalah salah satu DAS yang mengalir dari hulu kompleks pegunungan Gede-Pangrango pada bagian Timur laut dan Gunung salak pada bagian utaranya, mengalir menuju Teluk Pelabuhan ratu. DAS Cimandiri dicirikan dengan kerapatan sungai-sungai dan anak sungai yang mengaliri daerah cukup rapat dan besar. Sepanjang aliran sungai terdapat penggunaan lahan misalnya pertanian lahan kering, sawah, perkebunan dan pemukiman, dampak tidak selalu positif, bahkan menimbulkan permasalahan yang negative dalam arti kerusakan sumberdaya tanah dan air. Ciri iklim di DAS Cimandiri digolongkan sebagai iklim basah tipe Af. Curah hujan minimum umumnya terjadi pada musim timur (Juli s/d Agustus). Sumber : Alfaris, FMIPA - UI
Karakteristik Pasut
        Pasang Surut adalah proses naik-turunnya muka air laut diakibatkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda angkasa, terutama bulan dan matahari. Karena posisi bulan dan matahari selalu berubah secara teratur, maka besarnya kisaran pasang-surut juga berubah mengikuti perubahan posisi benda-benda angkasa tersebut. Pasang-Surut mempengaruhi arus dan sirkulasi perairan, terutama diperairan semi tertutup seperti selat dan teluk. Pengetahuan tentang tipe pasang surut diperlukan untuk kegiatan pengembangan pantai maupun pengelolaan lingkungannya. Untuk mengetahui tipe pasang-surut diperairan Teluk Pelabuhan Ratu digunakan data pasang surut pelabuhan perikanan yang tercatat oleh stasiun pasang surut Bakosurtanal, yang memperlihatkan bahwa pasang – surut diperairan pesisir Pelabuhan Ratu bertipe campuran dengan unsur ganda lebih menonjol dengan bilangan E = 0,25. Hal ini menunjukkan bahwa perairan pesisir Pelabuhan Ratu pada umumnya mengalami dua kali pasang dan dua kali surut setiap harinya dengan ketinggian yang berbeda. Dari hasil pengamatan pasang surut yang dilakukan oleh Geologi Kelautan, kedudukan air terendah adalah 90 cm dan kedudukan air tertinggi mencapai 249 cm dengan tunggangan airnya adalah 159 cm (BLH Kabupaten Sukabumi, 2003).



Kedalaman
Dengan batas 250 meter kearah laut, kedalaman wilayah pesisir Pelabuhan Ratu rata-rata berkisar antara 0 – 50 meter, pada kedalaman 10 meter di capai pada jarak 50 – 100 meter, kedalaman 25 meter dicapai pada jarak 100 – 150 meter dari garis pantai ke arah laut (BLH Kabupaten Sukabumi, 2003). Pada saat melakukan survey di wilayah Cisolok dan Pelabuhan Ratu, data kedalaman yang di ukur berkisar antara ± 10 – 50 meter pada jarak 70 – 500 meter dari garis pantai. Sedangkan di wilayah Ciemas kedalaman ± 10 – 50 meter pada jarak 5 – 250 meter dari garis pantai.  Jarak ini sudah memadai untuk dilakukannya penempatan instalasi budidaya sistem keramba jaring apung. Hal ini berdasarkan pada pendapat  Mayunar et al., (1995) bahwa perairan tempat keramba jaring apung sebaiknya bertopografi landai dengan kedalaman 6 – 8 m dan 7 – 15 m dari surut terendah (Sunaryanto et al., 2001) serta 1 m jarak dari keramba kedasar perairan (Sunyoto, 1993). Berikut akan disajikan peta mengenai kontur batimetri dari Teluk Pelabuhan Ratu.
 
 Gelombang

Gelombang yang terbentuk pada umumnya disebabkan oleh adanya proses alih energi dari angin menuju permukaan laut. Gelombang ini merambat ke segala arah membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai dalam bentuk hempasan ombak (breakers). Gelombang yang mendekati pantai akan mengalami pembiasan (refraction) dan akan memusat (convergence) jika menemui cekungan. Gelombang yang menuju keperairan dangkal akan mengalami spilling, plunging, colloping dan surging.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di dapatkan data tinggi gelombang berkisar antara 15 – 65 cm pada jarak 70 – 500 meter dari garis pantai , selanjutnya untuk rata-rata tinggi gelombang di perairan Teluk Pelabuhan Ratu dapat dilihat pada Lampiran 1. Tidak demikian halnya yang terukur pada daerah pecah gelombang seperti pada daerah karanghawu yang bisa mencapai 100 - 200 cm. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Irawan, 1992; Pariwono etal., 1996 menampilkan data tinggi gelombang Teluk Pelabuhan Ratu pada musim Barat rata-rata berkisar antara 70 – 150 m. Dengan demikian perairan Teluk Pelabuhan Ratu masih memiliki kondisi gelombang yang cukup aman bagi penempatan instalasi keramba dan kegiatan budidaya baik itu di musim Timur maupun di musim Barat.




Adapun karakteristik Lingkungan Pelabuah Ratu:
1. Kecepatan arus 0,75 m/detik
2. Tinggi dan periode gelombang 141,61 cm dengan periode 5,46 detik
3. Warna < 5 unit
4. Temperatur 22,2 -22,7 oC
5. Salinitas 29,34 0/00
6. pH 7,6
7. BOD5 12,65 mg/l
8. COD 24,60 mg/l
9. Amonia 0,21 mg/l
10. TSS 13,20 – 13,48 mg/l
11. Turbidity 0,15 – 0,42 NTU

Leia Mais…